BANDA ACEH | Tepat dua tahun menjalani masa pengabdian pada periode ketiganya di DPRK Banda Aceh, Irwansyah, ST, terus menegaskan komitmennya untuk memperluas manfaat dan memperkuat keberpihakan kepada masyarakat.
Bagi Irwansyah, dua tahun bukanlah waktu untuk berpuas diri, melainkan momentum mengevaluasi apa yang sudah dilakukan dan apa yang masih harus diperjuangkan hingga sisa masa jabatan berakhir.
Dalam refleksinya, Irwansyah mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang belum tuntas. Masih ada rumah warga yang membutuhkan perhatian, ruas jalan yang perlu diperjuangkan, dayah, sekolah, dan masjid yang perlu dibenahi, serta pelaku UMKM yang belum seluruhnya terjangkau program pendampingan. Karena itu, ia menegaskan sisa masa pengabdian harus dimaksimalkan agar semakin banyak kebutuhan warga dapat direspons secara nyata.
Rekam jejak tersebut turut mendapat apresiasi dari masyarakat. Muslim, warga Kecamatan Ulee Kareng, menilai Irwansyah sebagai sosok yang peduli dan terbuka terhadap aspirasi. Menurutnya, kerja-kerja advokasi yang dilakukan Irwansyah tidak hanya terpusat pada daerah pemilihan tertentu, tetapi dirasakan lebih merata oleh warga Kota Banda Aceh. “Beliau cukup aktif mendengar dan membantu kebutuhan masyarakat. Kerjanya kita lihat tidak hanya untuk satu wilayah saja,” ujarnya.
Penilaian serupa disampaikan Habibi, warga Kuta Alam. Ia melihat Irwansyah cukup konsisten mengakomodasi kepentingan rakyat, termasuk saat Aceh menghadapi situasi bencana dan persoalan layanan publik. Dalam kondisi ketika masyarakat membutuhkan suara yang kuat, kata Habibi, Irwansyah termasuk salah satu figur yang vokal menyampaikan persoalan warga agar mendapat perhatian pemerintah dan pihak terkait.
Habibi juga menilai gaya kepemimpinan Irwansyah cenderung dekat dengan masyarakat dan tidak banyak membedakan latar belakang warga yang datang membawa persoalan. Dalam ungkapan sederhana, ia menyebut Irwansyah sebagai sosok yang “hana pandang bulu” dalam membantu masyarakat. Sikap tersebut, menurutnya, membuat kehadiran Ketua DPRK Banda Aceh itu terasa lebih dekat dan memberi dampak positif bagi banyak kalangan.
Di luar agenda resmi kelembagaan, Irwansyah juga dinilai memiliki pola kerja yang tidak selalu dipublikasikan. Sejumlah bantuan, mediasi, dan advokasi disebut dilakukan tanpa banyak sorotan. Hal itu justru memperkuat persepsi sebagian masyarakat bahwa kerja politik tidak semata-mata harus diukur dari banyaknya publikasi, tetapi dari seberapa jauh persoalan warga benar-benar mendapat jalan keluar.
Dua tahun kepemimpinan Irwansyah di DPRK Banda Aceh kini menjadi bagian dari perjalanan panjang pengabdian politiknya. Dukungan masyarakat menjadi energi untuk melanjutkan kerja-kerja tersebut, sementara kritik dan harapan tetap menjadi pengingat agar fungsi representasi tidak berhenti pada seremoni. Harapan warga pun sederhana: Irwansyah tetap berada di garda depan rakyat, konsisten mengadvokasi persoalan masyarakat, menjaga komunikasi lintas lembaga, dan memastikan sisa masa pengabdian benar-benar memberi manfaat yang lebih luas bagi Kota Banda Aceh.[]

Social Header