Breaking News

Wisuda XVI UUI, Prof. Adjunct Dr. Marniati Titip Pesan Menyentuh: Gelar Bukan Akhir, Bersihkan Hati dan Jangan Berhenti Belajar

BANDA ACEH | Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI) menggelar Rapat Senat Terbuka Wisuda Angkatan XVI Tahun Akademik 2025/2026 dan Anugerah Bintang Ubudiyah 2026 di AAC Dayan Dawood, Banda Aceh, Sabtu (26/9/2026). Momentum akademik tersebut tidak hanya menjadi seremoni kelulusan, tetapi juga diisi dengan pesan kuat mengenai pendidikan, integritas, perkembangan teknologi, spiritualitas hingga ancaman narkotika yang dihadapi generasi muda.

Kegiatan tersebut dihadiri secara khusus Kepala BNN Provinsi Aceh Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si., serta sejumlah unsur lainnya, termasuk Kapolresta Banda Aceh, Staf Ahli Wali Kota Banda Aceh dan perwakilan BPOM. Hadir pula jajaran Universitas Ubudiyah Indonesia, di antaranya Rektor UUI Dr. Mutiawati, S.Pd., M.Pd., Ketua Yayasan Ubudiyah Dedi Zefrizal, S.T., para akademisi, orang tua dan keluarga wisudawan.

Dalam sambutannya, Rektor UUI Dr. Mutiawati menyoroti perubahan perilaku belajar generasi muda yang terbentuk melalui perjalanan dan pengalaman panjang, baik di dalam maupun di luar ruang kelas. Menurutnya, perkembangan teknologi digital memberikan peluang besar bagi dunia pendidikan, tetapi sekaligus mengubah cara mahasiswa memperoleh informasi dan pengetahuan. 

Karena itu, perguruan tinggi harus mampu membaca dan memprediksi dinamika perilaku belajar generasi berikutnya sehingga pendidikan tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Pada kesempatan tersebut juga disampaikan perkembangan program studi UUI, termasuk Program Studi Gizi dan Program Studi Informatika.

Pesan mengenai perubahan zaman turut diperkuat Prof. Adjunct Dr. Marniati. Ia menegaskan bahwa wisuda bukanlah garis akhir pendidikan, melainkan pintu menuju perjalanan baru. Setelah meninggalkan kampus, lulusan akan berhadapan dengan persaingan dunia kerja, pendidikan lanjutan, industri serta perubahan teknologi yang berlangsung semakin cepat. 

“Hari ini bukanlah akhir dari sebuah perjalanan pendidikan. Ini adalah awal perjalanan baru. Akan banyak pintu yang diketuk, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita mampu bertahan dan berkembang setelah melewati pintu tersebut,” ujarnya.

Marniati memberikan pesan khusus agar para lulusan tidak hanya mengejar kecerdasan dan kesuksesan material, tetapi juga membersihkan hati. Menurutnya, ilmu akan kehilangan nilai apabila seseorang masih memelihara kesombongan, ketamakan, ria, takabur atau menggunakan jabatan untuk kepentingan yang tidak benar. Ia mengajak wisudawan mengganti penyakit hati dengan rasa syukur, kesabaran dan keikhlasan. 

“Ketika diberi jabatan, jangan gunakan untuk korupsi. Ketika memperoleh kedudukan tinggi, jangan merendahkan orang lain. Jabatan belum tentu mampu memuliakan seseorang,” tegasnya.

Ia juga membagikan perjalanan hidupnya yang tidak selalu berjalan mulus. Marniati menceritakan pernah mengalami sejumlah penolakan ketika mencari pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan, hingga menghadapi ujian berat setelah tsunami Aceh. Pengalaman tersebut, menurutnya, mengajarkan bahwa kegagalan hari ini tidak selalu berarti tertutupnya masa depan. 

Ia juga meminta generasi muda tetap berusaha, belajar dan memperkuat hubungan spiritual. Di tengah kemajuan kecerdasan buatan dan media sosial, Marniati juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan ruang digital sebagai tempat mengumbar seluruh persoalan pribadi.

Pesan tegas lainnya datang dari Kepala BNNP Aceh Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani. Ia mengingatkan bahwa ijazah hanya menjadi bukti seseorang telah menyelesaikan jenjang pendidikan, bukan bukti bahwa proses belajarnya telah selesai. 

Menurut Dedy, lulusan yang dibutuhkan dunia kerja bukan semata-mata mereka yang memiliki gelar, tetapi orang yang mempunyai kemampuan nyata sekaligus dapat dipercaya. “Jaga integritas. Ilmu tanpa integritas dapat kehilangan makna. Jadilah lulusan yang dapat dipercaya, amanah, jujur, bertanggung jawab, disiplin dan konsisten antara perkataan dengan perbuatan,” pesannya.

Dedy juga mengingatkan wisudawan agar tidak berhenti pada orientasi mencari pekerjaan. Kompetensi, kemampuan berkomunikasi, penguasaan teknologi dan kemauan belajar sepanjang hayat harus terus dikembangkan. Dunia digital yang semakin tanpa batas menawarkan peluang luar biasa, tetapi sekaligus menyimpan risiko apabila tidak dibarengi etika. 

Karena itu, ia meminta generasi muda Aceh menjaga marwah diri, keluarga dan almamater, termasuk ketika menggunakan TikTok maupun berbagai platform media sosial. Jejak digital, menurutnya, harus dijaga karena apa yang dilakukan seseorang hari ini dapat memengaruhi perjalanan masa depannya.

Sebagai Kepala BNNP Aceh, Dedy memberikan perhatian khusus terhadap ancaman narkotika. Ia menegaskan narkoba bukan sekadar persoalan hukum, tetapi persoalan masa depan kemanusiaan. Karena itu, penanganannya harus berjalan melalui pemberantasan, pencegahan, rehabilitasi dan pemberdayaan masyarakat. 

Ia turut mendorong penguatan fasilitas rehabilitasi di Aceh agar korban penyalahgunaan narkotika yang memenuhi ketentuan memiliki ruang untuk dipulihkan dan tidak seluruh persoalan berakhir dengan pemenjaraan. Kearifan lokal, hukum adat dan resam gampong, menurutnya, juga dapat menjadi bagian dari pendekatan sosial sepanjang dilaksanakan sesuai ketentuan hukum.

Rangkaian pesan dalam Wisuda XVII UUI akhirnya bertemu pada satu titik: gelar harus diikuti karakter, ilmu harus dibarengi integritas, dan teknologi harus digunakan dengan tanggung jawab. 

UUI berharap para lulusan tidak hanya meninggalkan kampus dengan ijazah, tetapi membawa kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi dan memberikan manfaat. Dedy pun menutup arahannya dengan pesan tentang dimensi kehidupan yang lebih luas. 

“Jangan berhenti belajar dan carilah ilmu setinggi-tingginya. Jadilah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Mudah-mudahan kalian semua dalam perjalanan hidup bisa sukses dan selamat dunia akhirat,” pungkasnya.[]

© Copyright 2022 - Asumsi Publik - Informasi Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini