BANDA ACEH | Direktur RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA), Dr. Muhazar Harun, membuka ruang komunikasi yang luas dengan media dan berbagai elemen masyarakat untuk membahas kondisi terkini rumah sakit. Dalam wawancara bersama redaksi, Muhazar tampil serius namun tetap terbuka, memaparkan persoalan keuangan, pelayanan, pengembangan fasilitas, hingga target besar RSUDZA ke depan. Baru sekitar enam bulan memimpin, ia menegaskan pembenahan rumah sakit membutuhkan waktu, konsistensi, dan dukungan banyak pihak agar amanah Pemerintah Aceh dapat diwujudkan secara bertahap.
Muhazar mengatakan salah satu fokus utama manajemen saat ini adalah efisiensi sekaligus peningkatan pendapatan rumah sakit. Namun, peningkatan pendapatan belum bisa dijalankan secara maksimal karena masih terkendala sarana dan prasarana. Salah satu terobosan yang tengah dipersiapkan adalah pengembangan poliklinik eksekutif dengan layanan yang direncanakan hingga malam hari. Menurutnya, pengembangan tersebut tetap diarahkan untuk memperluas pilihan pelayanan tanpa mengabaikan pasien BPJS maupun masyarakat yang menggunakan skema asuransi lainnya.
Di balik rencana pengembangan itu, RSUDZA masih harus menghadapi persoalan utang dari periode sebelumnya. Muhazar menyebut beban kewajiban rumah sakit pernah berada di atas Rp250 miliar, sementara sebagian telah dibayarkan dan masih terdapat sisa yang harus diselesaikan secara bertahap. Ia menegaskan persoalan tersebut telah disampaikan melalui telaahan staf kepada Gubernur Aceh dan DPRA agar penyelesaiannya tidak mengganggu kebutuhan operasional rumah sakit.
Menurut Muhazar, kebutuhan rutin seperti obat-obatan dan bahan habis pakai harus lebih dahulu dipastikan aman. Karena itu, sejumlah program pengembangan belum dapat bergerak secepat yang diharapkan. Meski demikian, RSUDZA tetap mempersiapkan berbagai layanan strategis seperti Kelas Rawat Inap Standar, Orthopaedic Center, layanan bedah, Hemodialysis Center, serta pengembangan pelayanan ginjal. Ia menekankan bahwa program-program tersebut tetap berjalan secara bertahap menyesuaikan kemampuan keuangan dan dukungan anggaran.
Muhazar juga mengungkap progres pendekatan “jemput bola” ke Kementerian Kesehatan melalui penguatan program kanker, jantung, stroke, dan uronefrologi (KJSU). RSUDZA disebut berpeluang memperoleh dukungan peralatan medis canggih dengan nilai sekitar Rp70 hingga Rp76 miliar. Peralatan tersebut ditargetkan mulai terealisasi sekitar November hingga Desember 2026 dan akan memperkuat layanan kardio, onkologi, stroke, serta pelayanan spesialistik lainnya.
Untuk pengembangan pelayanan ginjal, Muhazar menegaskan RSUDZA juga memiliki rencana menuju layanan yang lebih lengkap, termasuk hemodialisis dan transplantasi ginjal. Menurutnya, rumah sakit telah memiliki tenaga spesialis dan subspesialis sebagai modal penting untuk menuju layanan rujukan tersier yang lebih kuat. Pengembangan tersebut membutuhkan dukungan sarana, pembiayaan, tim medis, serta tahapan yang matang agar pelayanan dapat dilaksanakan sesuai standar.
Muhazar menegaskan bahwa sepanjang 2026 pihaknya berupaya keras agar RSUDZA tidak menciptakan utang baru. Kebutuhan operasional dianalisis secara ketat, sementara kewajiban lama diselesaikan secara perlahan. Namun ia mengakui, bila dukungan pembiayaan dari Pemerintah Aceh tidak mencukupi, tekanan terhadap keuangan rumah sakit tetap berpotensi muncul. Karena itu, keberpihakan anggaran pemerintah menjadi faktor penting agar operasional dan pengembangan rumah sakit dapat berjalan seimbang.
Ia berharap adanya dukungan anggaran sektor kesehatan, termasuk peluang dari skema Otonomi Khusus, dapat membantu mempercepat penyelesaian kewajiban lama sekaligus membuka ruang bagi pengembangan layanan baru. Menurut Muhazar, rumah sakit tidak bisa hanya bertahan pada pelayanan rutin, tetapi juga harus bergerak menuju layanan yang lebih modern, kompetitif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat Aceh tanpa harus selalu mencari pelayanan kesehatan ke luar daerah.
Dalam wawancara tersebut, Muhazar juga menekankan pentingnya kesabaran publik dalam melihat hasil pembenahan RSUDZA. Enam bulan kepemimpinan, katanya, masih merupakan fase awal untuk merapikan persoalan lama sekaligus membangun fondasi baru. Ia ingin masyarakat menilai rumah sakit dari hasil kerja yang terukur, bukan hanya dari isu negatif yang berkembang di luar. Keterbukaan kepada media dan masyarakat dinilainya sebagai bagian dari upaya membangun kepercayaan terhadap proses perbaikan tersebut.
Muhazar menegaskan bahwa arah besar RSUDZA adalah menjadi rumah sakit rujukan yang semakin kuat, modern, dan dipercaya masyarakat Aceh. “Kita bekerja dengan penuh keyakinan dan semangat. Utang lama harus diselesaikan, pelayanan tidak boleh berhenti, dan program pengembangan harus terus berjalan. Kita ingin RSUDZA benar-benar menjadi rumah sakit kebanggaan Aceh,” ujarnya.[]

Social Header