Breaking News

Wakili Gubernur, Kadis Dayah Aceh Apresiasi HUDA Jaga Tradisi Keilmuan Islam Selama 27 Tahun

Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Muhsin Thahir, S.Pd.I., M.Pd.I., hadir mewakili Gubernur Aceh dalam acara Milad HUDA ke-27 di Aula Asrama Haji Embarkasi Aceh, Banda Aceh, Senin (14/9/2026).

BANDA ACEH | Gubernur Aceh mengapresiasi perjalanan Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) selama 27 tahun dalam menjaga tradisi keilmuan Islam sekaligus memperkuat peran ulama di tengah masyarakat.

Apresiasi tersebut disampaikan dalam sambutan Gubernur Aceh yang dibacakan Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Muhsin Thahir, S.Pd.I., M.Pd.I., saat menghadiri Milad HUDA ke-27 di Aula Asrama Haji Embarkasi Aceh, Banda Aceh, Senin (14/9/2026).

“Atas nama Pemerintah Aceh, kami menyampaikan selamat atas Milad HUDA ke-27,” demikian disampaikan Gubernur dalam sambutan yang dibacakan Muhsin.

Gubernur menyebut perjalanan 27 tahun HUDA bukan waktu yang singkat. Selama periode tersebut, HUDA dinilai telah ikut menjaga tradisi keilmuan Islam, memperkuat peran ulama, membina generasi muda, serta memberikan kontribusi bagi kehidupan masyarakat Aceh.

Menurut Gubernur, keberadaan ulama dan dayah memiliki posisi penting dalam pembangunan Aceh. Dayah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan tempat lahirnya ulama serta pemimpin masyarakat.

“Pemerintah melihat ulama dan dayah sebagai mitra utama dalam membangun generasi yang beriman, berilmu, berakhlak, mandiri dan mampu menghadapi perubahan zaman,” katanya.

Gubernur juga menilai tantangan yang dihadapi dayah saat ini semakin luas. Perubahan teknologi dan kehidupan digital membawa peluang sekaligus risiko bagi santri dan masyarakat.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemampuan menggunakan teknologi dengan penguatan ilmu agama dan akhlak.

“Literasi digital harus berjalan bersama literasi agama; kecakapan teknologi harus dibarengi akhlak, dan kecerdasan buatan harus disertai kecerdasan moral,” ujar Gubernur.

Ia mengatakan teknologi perlu dimanfaatkan untuk memperkuat pendidikan, dakwah, tata kelola dan kemandirian ekonomi dayah, tanpa menghilangkan identitas keislaman dan keacehan.

“Teknologi harus menjadi alat, bukan penguasa. Kita harus menguasai teknologi, bukan dikuasai oleh teknologi,” katanya.

Dalam sambutannya, Gubernur juga menyampaikan sejumlah upaya Pemerintah Aceh dalam memperkuat dayah, mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan kurikulum, tata kelola hingga kemandirian ekonomi.

Ia berharap hubungan antara pemerintah, ulama dan dayah terus diperkuat untuk menghadapi berbagai perubahan yang terjadi di tengah masyarakat.

Menurut Gubernur, penguatan dayah pada akhirnya bukan hanya persoalan pembangunan fasilitas, tetapi juga tentang membentuk manusia yang memiliki iman, ilmu dan akhlak.

Milad HUDA ke-27 turut dihadiri Rais 'Am Majelis Syuriah PB HUDA Abu Syeikh H. Hasanoel Basry HG, Wakil Ketua Majelis Mustasyah Waled H. Nuruzzahri Yahya, Katib 'Am Majelis Syuriah PB HUDA Tgk. H. Faisal Ali, Ketua Umum PB HUDA Abiya Dr. Tgk. H. Anwar Usman, S.Pd.I., M.M., serta para ulama dan pengurus HUDA.

Turut hadir Anggota DPD RI asal Aceh Ahmada MZ, Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris, Kepala BNNP Aceh Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si., serta perwakilan Polda Aceh dan Kejaksaan Tinggi Aceh.[]

© Copyright 2022 - Asumsi Publik - Informasi Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini