Breaking News

Festival Meurukon Bireuen 2026 Diikuti 17 Kecamatan, Jadi Ajang Pelestarian Budaya Aceh

BIREUEN | Festival Meurukon 2026 digelar di Kabupaten Bireuen dengan melibatkan kelompok dari 17 kecamatan. Selain memperebutkan Anugerah Bupati Bireuen, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya melestarikan tradisi lisan dan seni tutur budaya Aceh.

Festival yang mengangkat tema “Bireuen Kota Santri, Tanah Juang Pusaka Bangsa” tersebut berlangsung selama tiga malam, 5–7 Oktober 2026, di halaman Pendopo Bupati Bireuen. Kegiatan dimulai setiap malam pukul 20.00 hingga 23.30 WIB.

Festival diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Bireuen melalui Dewan Kesenian Aceh (DKA), Majelis Adat Aceh (MAA), serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen.

Kepala Sekretariat MAA Kabupaten Bireuen sekaligus panitia kegiatan, Azmi, mengatakan Festival Meurukon tidak hanya diarahkan sebagai kompetisi seni, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenalkan kembali seni dan nilai budaya Aceh kepada generasi muda.

“Dalam setiap kegiatan HUT Kabupaten Bireuen, kami ingin menampilkan seni budaya, seni adat, dan kreativitas adat. Generasi muda saat ini perlu lebih mengenal nilai-nilai budaya. Karena itu, kegiatan seni seperti ini akan terus dikembangkan dan tidak hanya menampilkan meurukon,” ujar Azmi.

Pada malam pertama, Senin (5/10/2026), peserta yang tampil berasal dari Kecamatan Pandrah, Gandapura, Samalanga, Peusangan Siblah Krueng, dan Juli.

Selanjutnya, Selasa (6/10/2026), giliran Kecamatan Kota Juang, Jangka, Peulimbang, Peusangan, Makmur, dan Peudada yang tampil.

Sementara pada malam terakhir, Rabu (7/10/2026), penampilan diisi peserta dari Kecamatan Kuala, Kutablang, Jeunieb, Peusangan Selatan, Simpang Mamplam, dan Jeumpa.

Azmi mengatakan Festival Meurukon diharapkan tidak berhenti sebagai ajang perebutan juara. Menurutnya, kegiatan tersebut juga penting untuk menjaga keberadaan seni tutur yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Aceh.

"Festival Meurukon diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana melestarikan tradisi lisan dan seni tutur budaya Aceh di Kabupaten Bireuen,” katanya.

Ia menambahkan, masyarakat menunjukkan antusiasme terhadap pelaksanaan Festival Meurukon yang menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-27 Kabupaten Bireuen.

Menurut Azmi, meurukon merupakan salah satu warisan budaya Aceh yang perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda. Tradisi tersebut juga memuat syiar keagamaan yang disampaikan melalui seni tutur.

Meurukon di Kabupaten Bireuen sebelumnya telah memperoleh Sertifikat Warisan Budaya Takbenda (WBTb) setelah diusulkan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen bersama Dewan Kesenian Aceh Kabupaten Bireuen.

“Meurukon perlu kita lestarikan karena di dalamnya terdapat syiar agama kepada masyarakat. Kami mengajak masyarakat untuk ikut menjaga dan mengembangkan seni meurukon,” ujar Azmi.

Pihaknya menekankan, pelestarian seni dan budaya akan terus dilakukan melalui kolaborasi antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dewan Kesenian Aceh, serta Majelis Adat Aceh.

Menurutnya, pengenalan seni meurukon juga perlu dilakukan sejak usia dini agar generasi muda memahami dan memiliki kepedulian terhadap warisan budaya daerah.

Festival Meurukon 2026 diharapkan menjadi salah satu ruang bagi masyarakat dan generasi muda untuk mengenal, menampilkan, sekaligus meneruskan seni tutur Aceh agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.[]

© Copyright 2022 - Asumsi Publik - Informasi Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini