
Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP., MP., IPU., ASEAN Eng, sedang menunjukkan gagasan program Pertanian Agroedutechnopark di Seulawah/saree
ACEH BESAR | Kawasan Saree di Kabupaten Aceh Besar menyimpan potensi besar untuk kembali menjadi salah satu destinasi unggulan Aceh. Berbekal kekayaan alam, udara pegunungan, lahan pertanian yang subur, serta keberadaan sejumlah lembaga pendidikan dan pelatihan, Saree dinilai layak dikembangkan menjadi kawasan terpadu melalui konsep Saree: Agro Edu Tourist Forest Technopark.
Gagasan tersebut disampaikan Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP., MP., IPU., ASEAN Eng., dalam diskusi bersama sejumlah awak media beberapa hari lalu. Menurut pria yang akrab disapa Azan itu, konsep ini merupakan pengembangan dari gagasan Agroedutechnopark yang sebelumnya pernah dirintis melalui BLPP Saree dan SMK Pembangunan Pertanian Negeri Saree bersama sejumlah pihak. Kini, konsep tersebut diperluas dengan memasukkan unsur pariwisata dan kehutanan sebagai bagian dari strategi pengembangan kawasan.
Azan mengenang masa ketika Saree menjadi tempat persinggahan favorit para pengendara yang melintasi jalur Banda Aceh menuju Pidie dan wilayah lainnya. Udara sejuk di kaki Gunung Seulawah, deretan pedagang jagung, keripik, buah-buahan segar, serta warung kuliner pernah menjadi daya tarik tersendiri. Namun, seiring perubahan lingkungan, alih fungsi lahan, pembangunan permukiman, dan perubahan pola mobilitas masyarakat, pesona tersebut perlahan memudar. Kehadiran Jalan Tol Banda Aceh–Sigli (Sibanceh) turut mengubah arus kendaraan sehingga sebagian pelaku usaha di jalur lama kehilangan pelanggan.
Menurut Azan, Saree tidak boleh dibiarkan kehilangan identitas dan daya tariknya. Solusinya bukan menolak kemajuan infrastruktur, melainkan mengubah pola pengembangan kawasan dari sekadar tempat singgah menjadi destinasi yang sengaja dikunjungi. Ia meyakini kebangkitan Saree dapat diwujudkan melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, lembaga pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, dengan masyarakat Saree sendiri sebagai pelaku utama pembangunan.
Konsep Agro Edu Tourist Forest Technopark mengintegrasikan lima pilar utama, yakni pertanian, pendidikan, pariwisata, kehutanan, dan teknologi. Dari sisi pertanian, Saree memiliki potensi untuk mengembangkan beragam komoditas hortikultura dan perkebunan. Dari sisi pendidikan, kawasan ini ditopang keberadaan SMK PP Negeri Saree, balai pelatihan pertanian, UPTD Balai Benih Hortikultura Tanaman Pangan dan Perkebunan (BBHTPP), serta Sekolah Polisi Negara (SPN) Seulawah. Sementara itu, bentang alam pegunungan, air terjun, Taman Hutan Raya Pocut Meurah Intan, dan potensi wisata alam lainnya dapat menjadi daya tarik bagi pengunjung.
Azan juga membayangkan lahirnya konsep “Mekar Saree”, sebuah kawasan wisata pertanian dan edukasi yang memadukan pengalaman berwisata dengan kegiatan produktif. Pengunjung nantinya dapat menikmati paket wisata petik buah langsung dari kebun, seperti jeruk, buah naga, alpukat, salak madu, stroberi, hingga wisata bunga. Selain itu, kegiatan berkemah edukatif di Taman Pramuka Seulawah, trekking alam, pengenalan konservasi hutan, dan aktivitas wisata berbasis lingkungan dapat dikembangkan sesuai potensi serta ketentuan pengelolaan kawasan.
Tidak hanya menjadi tempat rekreasi, Saree juga berpeluang menjadi laboratorium alam bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, dan masyarakat umum. Lembaga pendidikan dan pelatihan yang ada dapat diintegrasikan ke dalam paket wisata edukasi, mulai dari pembelajaran pembibitan tanaman, teknik budidaya modern, pengolahan hasil pertanian, hingga pengenalan inovasi pertanian. Dengan demikian, wisatawan tidak sekadar datang untuk menikmati pemandangan, tetapi juga memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru yang bermanfaat
Pilar teknologi menjadi bagian penting untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat. Melalui pengembangan technopark, petani dan pelaku UMKM dapat didorong mengadopsi teknologi pertanian presisi, smart greenhouse, smart farming, serta pemasaran digital. Hasil pertanian tidak lagi hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang memiliki daya saing lebih tinggi. Pada saat yang sama, penataan pusat kuliner, sentra oleh-oleh, dan kawasan perdagangan produk lokal dapat menjadi langkah untuk menghidupkan kembali usaha masyarakat yang terdampak perubahan arus lalu lintas.
Untuk memperkuat daya tarik, Azan menilai Saree perlu memiliki agenda wisata yang berkelanjutan, seperti Saree Agro & Eco Festival, pasar tani akhir pekan, kegiatan olahraga alam, serta promosi produk unggulan melalui media sosial dan platform digital. Pengembangan tersebut perlu dibarengi penataan akses, kebersihan, fasilitas pengunjung, perlindungan hutan, dan pelestarian lingkungan. Dengan perencanaan yang matang, Saree berpeluang membangun identitas sebagai pusat healing, learning, dan sharing di Aceh, sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat lokal.
Azan menegaskan, mewujudkan Saree sebagai kawasan agroeduwisata terpadu bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh satu pihak. Diperlukan langkah bertahap, komitmen bersama, serta dukungan pemerintah daerah dan masyarakat agar gagasan tersebut berkembang menjadi program nyata yang memberikan manfaat ekonomi dan sosial. Ia berharap Saree dapat mengambil inspirasi dari destinasi seperti Taman Wisata Mekarsari di Jawa Barat dan Berastagi di Sumatera Utara, dengan tetap mengedepankan karakter, kearifan lokal, serta kekayaan alam Aceh. Baginya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Dengan kolaborasi dan kesungguhan, Saree diharapkan kembali hidup sebagai kawasan pertanian, pendidikan, wisata, konservasi, dan inovasi yang memberikan harapan baru bagi masyarakat Aceh.[]
Social Header