Breaking News

Muhazar Punya Target Besar untuk RSUDZA: Tak Lagi Kirim Pasien ke Penang, Apa Terobosannya?

BANDA ACEH | Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) mulai memasuki fase pembenahan besar. Direktur RSUDZA, Muhazar, menyiapkan arah baru pengelolaan rumah sakit dengan menempatkan efisiensi, kesehatan keuangan, penguatan layanan spesialistik, serta peningkatan daya saing sebagai agenda utama.

Di tengah bayang-bayang kewajiban lama yang pernah menembus lebih dari Rp250 miliar, manajemen RSUDZA memastikan persoalan keuangan tidak boleh mengorbankan pelayanan kepada masyarakat.

Muhazar menegaskan, rumah sakit harus tetap berjalan dan memberikan pelayanan terbaik sembari menyelesaikan kewajiban secara bertahap.

Utang harus kita selesaikan, tetapi rumah sakit juga harus terus bergerak,” tegas Muhazar.

Langkah awal dilakukan melalui efisiensi operasional. Manajemen mulai mengkaji secara menyeluruh kebutuhan obat-obatan, bahan habis pakai, pelayanan harian hingga berbagai kebutuhan penunjang lainnya.

Targetnya jelas: sepanjang 2026 RSUDZA berupaya keras agar tidak kembali menciptakan utang baru, sembari menuntaskan kewajiban yang diwariskan dari periode sebelumnya.

Utang Lama Jadi Pekerjaan Rumah

Persoalan utang menjadi salah satu pekerjaan rumah terbesar bagi manajemen RSUDZA. Dari kewajiban yang sebelumnya disebut mencapai lebih dari Rp250 miliar, sebagian telah dibayarkan. Namun, masih terdapat sisa kewajiban yang harus diselesaikan.

Untuk mencari jalan keluar yang lebih sehat, manajemen RSUDZA telah menyiapkan telaahan staf kepada Gubernur Aceh dengan tembusan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).

Muhazar menilai dukungan Pemerintah Aceh menjadi faktor penting dalam proses penyehatan keuangan rumah sakit.

Ia berharap keberpihakan anggaran, termasuk pemanfaatan skema Otonomi Khusus, dapat menjadi bagian dari solusi untuk menyelesaikan kewajiban lama sekaligus memperkuat pembiayaan operasional RSUDZA.

Menurutnya, persoalan pembiayaan harus dihitung secara realistis agar rumah sakit tidak kembali masuk ke dalam lingkaran utang.

“Kalau dukungan anggaran tidak mencukupi, tentu kemungkinan munculnya utang baru tetap ada. Karena itu kita ingin pembiayaan rumah sakit benar-benar dihitung dan diselesaikan dengan baik,” ujarnya.

Poli Eksekutif hingga Malam

Di sisi lain, pembenahan keuangan tidak hanya dilakukan dengan memangkas pengeluaran. RSUDZA juga mulai mencari sumber pendapatan baru melalui pengembangan layanan yang memiliki nilai tambah.

Salah satu terobosan yang disiapkan adalah poliklinik eksekutif yang direncanakan beroperasi hingga sekitar pukul 22.00 WIB.

Layanan tersebut akan menyasar pasien umum, peserta asuransi, maupun pasien yang memilih pembayaran mandiri. Pada saat yang sama, pelayanan reguler bagi peserta BPJS tetap dipastikan berjalan.

Poliklinik eksekutif akan diperkuat dengan dokter spesialis, subspesialis hingga sub-subspesialis. Konsep ini diarahkan untuk menghadirkan layanan kesehatan dengan standar yang semakin kompetitif di Aceh.

Muhazar bahkan memasang target lebih besar: menjadikan RSUDZA sebagai pilihan utama masyarakat Aceh untuk mendapatkan layanan medis berkualitas, sehingga ketergantungan berobat ke luar negeri, khususnya Penang dan Singapura, dapat ditekan.

“Berikan kami kesempatan dua sampai tiga tahun. Kita ingin RSUDZA mampu bersaing dan masyarakat Aceh memiliki layanan berkualitas di daerah sendiri,” katanya.

Bidik Layanan Spesialistik dan Transplantasi

GinjalPembenahan RSUDZA tidak berhenti pada layanan eksekutif. Sejumlah pusat layanan medis juga tengah didorong untuk memperkuat posisi rumah sakit sebagai rujukan tersier di Aceh.

Program yang menjadi perhatian antara lain Kelas Rawat Inap Standar (KRIS), Orthopaedic Center, layanan bedah, Hemodialysis Center hingga persiapan transplantasi ginjal.

Pengembangan layanan ginjal menjadi salah satu agenda strategis. RSUDZA berupaya membangun pelayanan yang lebih komprehensif, mulai dari hemodialisis, tindakan bedah hingga transplantasi ginjal.

Modal awal, kata Muhazar, telah tersedia melalui keberadaan tenaga dokter spesialis dan subspesialis. Namun, pengembangan tetap akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan sarana, anggaran dan kebutuhan operasional.

Peralatan Medis Rp70–76 Miliar

Harapan memperkuat layanan rujukan juga datang dari program kanker, jantung, stroke dan uronefrologi (KJSU) yang dikembangkan bersama Kementerian Kesehatan.

Dalam program tersebut, RSUDZA berpeluang memperoleh dukungan peralatan medis berteknologi canggih dengan nilai sekitar Rp70–76 miliar.

Pengadaan peralatan tersebut ditargetkan mulai direalisasikan sekitar November hingga Desember. Kehadiran fasilitas baru diharapkan mampu memperkuat kemampuan RSUDZA menangani penyakit jantung, stroke, kanker serta berbagai kasus medis kompleks.

Dengan tambahan fasilitas dan penguatan sumber daya manusia, RSUDZA diarahkan tidak sekadar menjadi rumah sakit rujukan, tetapi juga pusat layanan kesehatan dengan kemampuan spesialistik dan subspesialistik yang semakin lengkap.

Dua Target Besar: Keuangan Sehat, Layanan Meningkat

Muhazar menyadari pembenahan RSUDZA bukan pekerjaan singkat. Persoalan utang harus diselesaikan, sementara tuntutan peningkatan kualitas layanan terus berjalan.

Karena itu, manajemen mencoba menjalankan dua agenda secara bersamaan: menyehatkan kondisi keuangan dan meningkatkan kualitas pelayanan.

Menurutnya, rumah sakit tidak boleh berhenti berkembang hanya karena menghadapi persoalan kewajiban lama.

“Target kita jelas: pelayanan semakin baik, fasilitas semakin lengkap, pendapatan meningkat, dan masyarakat Aceh semakin percaya berobat di RSUDZA,” tegas Muhazar.

Jika seluruh agenda tersebut berjalan sesuai rencana, RSUDZA dalam dua hingga tiga tahun ke depan diharapkan mampu tampil dengan wajah baru: lebih efisien, lebih kuat secara finansial, semakin lengkap dalam layanan spesialistik, dan semakin kompetitif sebagai rumah sakit rujukan utama di Aceh.[]

© Copyright 2022 - Asumsi Publik - Informasi Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini