Breaking News

Humanis dan Kedepankan Dialog Bersama Masyarakat, Kapolda Aceh Ruddi Setiawan Dianugerahi Pin Emas Kapolri

BANDA ACEH | Pendekatan humanis, komunikasi yang terbuka, dan komitmen menjaga keamanan bersama masyarakat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan tugas kepolisian. Sikap tersebut turut mewarnai langkah Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan dalam mengawal dinamika kegiatan masyarakat di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada Agustus 2026 lalu. Atas peran dan kontribusinya dalam pengamanan kegiatan tersebut, Kapolda Aceh bersama Wakapolda Aceh Brigjen Pol. Ari Wahyu Widodo dan personel Ditintelkam Kompol I Ketut Supriyatnha dianugerahi Pin Emas Kapolri.

Penghargaan tersebut bukan sekadar bentuk apresiasi institusi, tetapi juga menjadi momentum untuk menegaskan pentingnya pendekatan persuasif dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Dalam situasi yang dinamis, kehadiran polisi di tengah masyarakat dituntut tidak hanya mengandalkan kesiapan personel, tetapi juga mengedepankan komunikasi, pengendalian diri, serta kemampuan memahami aspirasi masyarakat agar situasi tetap terkendali.

Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol. Joko Krisdiyanto menjelaskan, penganugerahan Pin Emas Kapolri berdasarkan Keputusan Kapolri Nomor Kep/1240/VIII/2026 tanggal 20 Agustus 2026. Kapolda Aceh dinilai berperan dalam membangun komunikasi dan melakukan negosiasi secara langsung dengan masyarakat, mengoordinasikan pengamanan bersama personel TNI, serta mengambil langkah-langkah untuk meredam ketegangan ketika situasi di lapangan memanas. Koordinasi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan patroli skala besar juga dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas keamanan.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa menjaga keamanan bukan semata-mata tentang mengendalikan keadaan, melainkan juga memastikan ruang dialog tetap terbuka. Dalam menghadapi dinamika massa, imbauan agar personel tidak terpancing provokasi menjadi bagian penting untuk mencegah eskalasi.

Wakapolda Aceh Brigjen Pol. Ari Wahyu Widodo turut mengambil peran melalui negosiasi dengan masyarakat, penguatan arahan kepada personel, serta keterlibatan dalam pembersihan lingkungan masjid setelah kejadian. Langkah ini mencerminkan pentingnya menjaga ketertiban sekaligus menghormati lingkungan rumah ibadah.

Penghargaan serupa juga diberikan kepada Kompol I Ketut Supriyatnha yang mengalami luka di bagian kepala akibat lemparan batu ketika menjalankan tugas pengamanan. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa tugas kepolisian memiliki risiko nyata dan membutuhkan kesiapsiagaan, keberanian, serta tanggung jawab.

Menurut Joko Krisdiyanto, penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas kontribusi personel dalam menghadapi situasi yang menuntut kemampuan komunikasi, pengendalian keadaan, dan perhatian terhadap keselamatan di lapangan. Penganugerahan itu disampaikan dalam upacara penerimaan Pin Emas Kapolri di Mapolda Aceh, Rabu (14/10/2026).

Alhamdulillah, penghargaan ini menjadi kebanggaan sekaligus pengingat bahwa keamanan yang berkelanjutan membutuhkan kerja sama seluruh elemen masyarakat. Sikap humanis, dialog yang santun, dan saling menghormati harus terus menjadi fondasi hubungan antara Polri dan masyarakat Aceh.

Dengan mengedepankan persatuan serta menghindari provokasi, setiap persoalan diharapkan dapat diselesaikan secara bijaksana, sehingga Aceh tetap aman, damai, dan harmonis. Pada akhirnya, keberhasilan menjaga keamanan bukan hanya diukur dari situasi yang terkendali, tetapi juga dari tumbuhnya kepercayaan, rasa aman, dan kebersamaan di tengah masyarakat.[]

© Copyright 2022 - Asumsi Publik - Informasi Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini