Breaking News

Luka yang Tidak Dirayakan pada Hari Guru

SULAWESI TENGGARA | Hari itu sekolah tampak lebih hidup dari biasanya. Balon warna-warni bergantung di setiap sudut, panggung kecil didirikan di lapangan, dan anak-anak berlarian sambil membawa bunga untuk guru-guru mereka. Musik mengalun, suara tawa bercampur dengan ucapan terima kasih. Semua terlihat indah—seolah hari itu diciptakan hanya untuk kebahagiaan.

Namun, di balik gemerlap perayaan itu, ada satu sosok guru yang berjalan pelan, seolah setiap langkahnya menahan sesuatu yang berat. Senyumnya hadir, tapi hambar. Matanya ikut tersenyum, tapi sebenarnya sedang menahan badai yang tak pernah diberi ruang untuk terdengar.

Ia baru saja terluka—bukan oleh benda, bukan oleh kecelakaan, tetapi oleh kata-kata dan sikap manusia yang seharusnya memahami perjuangannya.

Seorang guru yang pernah berdiri paling depan demi murid-muridnya, kini justru berdiri paling kesepian.

Ironi itu begitu pedih: di hari ketika profesinya dirayakan, ia justru harus merasakan hantaman paling keras.

Saat orang lain menerima pelukan, ia menerima tuduhan.

Saat guru lain diucapkan terima kasih, ia justru harus menelan kecewa.

Saat panggung dipenuhi nama-nama yang dihormati, hatinya dilubangi oleh ketidakadilan yang tak bisa ia suarakan.

Ia mencoba tetap tegak, mencoba menyembunyikan gemetar di tangannya. Masih ada kelas yang harus ia ajar, masih ada anak-anak yang menunggunya membaca pelajaran dengan suara lembut.

Meski hatinya remuk, ia tetap melangkah masuk ke ruang kelas—tempat satu-satunya di mana ia merasa benar-benar dibutuhkan.

Di hadapan murid-muridnya, ia kembali menjadi cahaya.

Padahal, tiang tempat ia bersandar sedang goyah.

Padahal, dirinya sendiri sedang mencari cahaya itu di dalam gelap.

Tidak ada yang tahu betapa semalam ia menangis.

Tidak ada yang tahu betapa pagi ini ia memaksakan diri untuk tetap menjadi kuat.

Tidak ada yang tahu luka apa yang ia simpan, kata-kata mana yang menghancurkannya, dan perlakuan siapa yang membuat hatinya tertusuk tanpa suara.

Tapi begitulah guru…

Mereka selalu memilih bertahan, bahkan ketika dunia memberinya alasan untuk pergi.

Mereka tetap mengajarkan tentang kebaikan, meski sering tidak diperlakukan baik.

Mereka tetap mengajarkan tentang kejujuran, meski sering disalahpahami.

Mereka tetap mengajarkan tentang sabar, meski hatinya sendiri tak pernah diberi kesempatan untuk dipeluk.

Dan hari itu—yang seharusnya menjadi hari kebahagiaan—justru menjadi pengingat pahit bahwa guru juga manusia. Bahwa di balik seragam rapi dan senyum tegar, ada hati yang bisa patah, ada jiwa yang bisa lelah, ada luka yang bisa mengalir begitu dalam.

Tidak ada kamera yang merekam air matanya.

Tidak ada mikrofon yang memberinya kesempatan untuk bersuara.

Tidak ada naskah yang menuliskan namanya dalam daftar pahlawan.

Namun langit tahu.

Tuhan tahu.

Dan mungkin, di sudut kecil ruang kelas itu… murid-muridnya merasakan kehangatan yang ia berikan meski dari hati yang terluka.

Hari Guru mungkin hanya sehari—tapi luka guru bisa disimpan bertahun-tahun.

Dan semoga suatu hari nanti, dunia belajar satu hal:

Guru tidak hanya mengajarkan tentang kehidupan… mereka juga diam-diam menanggung beratnya.

Sumber : Ernawati Latif Sultra.
Editor    : Redaksi 

© Copyright 2022 - Asumsi Publik - Informasi Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini