BANDA ACEH | Nama Aminullah Usman kembali menguat dalam percakapan politik Kota Banda Aceh. Mantan Wali Kota Banda Aceh yang juga pernah memimpin Bank Aceh itu kembali disebut-sebut sebagai salah satu figur yang berpotensi tampil pada kontestasi kepemimpinan kota tahun 2030. Bagi sebagian masyarakat, kemunculan kembali nama Aminullah bukan sekadar nostalgia politik, tetapi lahir dari rekam jejak dan kedekatannya dengan berbagai lapisan warga.
Aminullah dikenal sebagai sosok yang menaruh perhatian pada anak yatim, kaum duafa, fakir miskin, serta pelaku UMKM. Dalam berbagai kesempatan, ia kerap hadir langsung di tengah masyarakat dan membangun citra sebagai pemimpin yang mudah ditemui. Kedekatan tersebut menjadi salah satu warna kepemimpinannya ketika memimpin Banda Aceh dan terus melekat hingga kini.
Jejaknya di sektor ekonomi juga menjadi bagian penting dari identitas politik Aminullah. Latar belakang sebagai mantan Direktur Utama Bank Aceh membuatnya dikenal memiliki perhatian besar terhadap penguatan ekonomi masyarakat. Ketika memimpin Banda Aceh, UMKM menjadi salah satu sektor yang terus didorong untuk berkembang, naik kelas, dan memperoleh ruang lebih luas dalam menggerakkan perekonomian kota.
Masa kepemimpinannya juga tidak berjalan dalam situasi mudah. Pandemi COVID-19 menjadi salah satu ujian berat yang dihadapi pemerintah kota ketika itu. Di tengah tekanan kesehatan, ekonomi, dan sosial, Aminullah dituntut menjaga pelayanan publik sekaligus memastikan roda perekonomian masyarakat tetap bergerak. Situasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan kepemimpinannya yang hingga kini masih sering dikenang para pendukungnya.
Kini, Aminullah kembali memiliki pijakan politik yang cukup kuat. Di bawah kepemimpinannya di Partai Amanat Nasional, partai tersebut meraih lima kursi di DPRK Banda Aceh. Capaian ini dinilai memperlihatkan bahwa basis politik dan pengaruh Aminullah di ibu kota Provinsi Aceh masih cukup diperhitungkan. Modal tersebut pula yang membuat namanya kembali ramai dikaitkan dengan arah kepemimpinan Banda Aceh ke depan.
Bagi para pendukungnya, masih terdapat pekerjaan dan gagasan pembangunan yang dinilai belum sepenuhnya selesai ketika Aminullah memimpin. Mereka melihat adanya ruang untuk melanjutkan agenda penguatan ekonomi rakyat, penataan kota, pelayanan sosial, serta pembangunan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Karena itu, muncul dorongan agar Aminullah kembali mengambil peran lebih besar.
Aminullah sendiri dikenal memiliki karakter kepemimpinan yang tegas namun komunikatif. Ia tidak hanya tampil dalam forum resmi, tetapi juga kerap hadir dalam kegiatan masyarakat, menyapa warga dan menjaga hubungan dengan berbagai kelompok. Gaya kepemimpinan semacam itu membuat namanya tetap memiliki tempat tersendiri di tengah sebagian masyarakat Banda Aceh, meski masa jabatannya sebagai wali kota telah berakhir.
Menuju 2030, perjalanan politik masih panjang dan dinamika dapat berubah. Namun satu hal mulai terlihat: Aminullah Usman kembali hadir dalam radar politik Banda Aceh. Apakah ia benar-benar akan kembali maju dan mendapat kepercayaan masyarakat, waktu yang akan menjawab. Untuk saat ini, satu frasa mulai kembali terdengar di tengah percakapan warga: “Aminullah is back.”
Saat ditanya mengenai arah politiknya ke depan, Aminullah Usman mengaku belum menentukan sikap. Menurutnya, peluang untuk kembali berkiprah masih terbuka, baik di Kota Banda Aceh, Aceh Barat, maupun menuju DPR. “Untuk saat ini saya belum menentukan sikap. Semua kemungkinan masih terbuka, apakah di Banda Aceh, Aceh Barat, ataupun ke DPR. Kita lihat perkembangan dan tentu semuanya akan dipertimbangkan dengan matang,” ujar Aminullah.
“Yang jelas, sebagai politikus kita tetap berjuang merebut posisi yang memungkinkan untuk membantu dan memperjuangkan kepentingan rakyat,” ujar Aminullah.

Social Header