Breaking News

Hardikda ke-67, Kadisdik Aceh Ajak Insan Pendidikan Introspeksi dan Perkuat Komitmen Bangun Generasi Unggul

BANDA ACEH | Peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh ke-67 menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali perjalanan dan masa depan pendidikan di Tanah Rencong. Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, mengajak seluruh insan pendidikan menjadikan peringatan tersebut sebagai ruang introspeksi sekaligus memperkuat komitmen dalam menjalankan amanah pendidikan.

Dalam momentum Hardikda ke-67, Murthalamuddin menyampaikan ucapan selamat serta penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh guru, tenaga kependidikan, peserta didik, dan seluruh insan pendidikan di Aceh yang selama ini terus mengambil peran dalam mencerdaskan generasi penerus.

“Selamat Hari Pendidikan Daerah ke-67. Penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh guru, tenaga kependidikan, peserta didik dan seluruh insan pendidikan di Aceh,” ujar Murthalamuddin.

Ia menjelaskan, peringatan Hardikda Aceh memiliki akar sejarah yang kuat. Tanggal 2 September 1959 menjadi tonggak penting dalam perjalanan pendidikan Aceh ketika Presiden Soekarno meresmikan Kota Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam.

Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dari sejarah pengakuan dan penetapan keistimewaan Aceh, khususnya dalam bidang pendidikan. Karena itu, momentum tersebut kemudian diabadikan sebagai Hari Pendidikan Daerah Aceh sebagai salah satu simbol komitmen untuk terus memajukan pendidikan di daerah.

Menurut Murthalamuddin, semangat yang lahir dari Darussalam harus terus diwariskan dan diterjemahkan dalam pembangunan pendidikan masa kini. Pendidikan Aceh tidak hanya dituntut melahirkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga generasi yang memiliki karakter Islami, unggul, berintegritas dan bermartabat.

Namun, di balik perayaan Hardikda, Murthalamuddin menilai terdapat pesan yang jauh lebih penting, yakni perlunya seluruh insan pendidikan melakukan evaluasi terhadap pengabdian dan tanggung jawab masing-masing.

Ia mengajak para birokrat pendidikan, guru, pengawas, tenaga kependidikan maupun seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan untuk melihat kembali sejauh mana tugas dan amanah telah dilaksanakan.

"Momentum ini harus menjadi ajang introspeksi diri. Apakah kita yang berkecimpung di dunia pendidikan sudah melaksanakan pekerjaan dan amanah dari tugas-tugas kita? Apakah kita sudah menjadi birokrat pendidikan yang baik, guru, pengawas maupun tenaga kependidikan yang benar-benar memenuhi tanggung jawab kita?” katanya.

Menurutnya, introspeksi bukan sekadar melihat kekurangan, tetapi juga menjadi langkah untuk memperbaiki berbagai hal yang masih perlu dibenahi. Setiap insan pendidikan perlu berani melihat kembali perjalanan yang telah dilakukan, mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan, kemudian menjadikannya sebagai dasar untuk meningkatkan kualitas pengabdian.

“Karena itu, momentum ini harus menjadi peringatan bagi semua insan pendidikan untuk mengintrospeksi diri masing-masing, melihat kembali ke belakang, apakah masih ada kelebihan dan kekurangan dalam pekerjaan kita,” ujar Murthalamuddin.

Ia menegaskan, pembangunan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh kualitas pengabdian guru, tenaga kependidikan, pengawas, birokrat pendidikan, peserta didik, orang tua dan seluruh elemen masyarakat.

Dalam konteks Aceh yang memiliki keistimewaan dan kekhususan, Hardikda juga memiliki makna strategis. Peringatan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan Aceh memiliki sejarah dan posisi penting dalam perjalanan pembangunan daerah.

Karena itu, Murthalamuddin berharap semangat Hardikda ke-67 tidak berhenti pada seremoni tahunan. Momentum tersebut harus menjadi energi baru untuk memperkuat kualitas pendidikan, meningkatkan profesionalisme seluruh insan pendidikan serta memastikan amanah pendidikan dijalankan secara sungguh-sungguh.

Dengan semangat tersebut, Hari Pendidikan Daerah ke-67 diharapkan menjadi titik refleksi sekaligus pijakan untuk melangkah lebih jauh dalam membangun pendidikan Aceh yang semakin berkualitas, berkarakter Islami, unggul dan bermartabat.

Semangat Darussalam sebagai kota pelajar dan mahasiswa, kata dia, harus terus hidup dalam setiap upaya membangun masa depan pendidikan Aceh. Sebab, kualitas generasi hari ini akan menjadi penentu wajah Aceh pada masa mendatang.[]

© Copyright 2022 - Asumsi Publik - Informasi Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini