Breaking News

Kajian Akademik Ungkap Aksi Sosial Haji Uma Bukan Sekadar Pencitraan: Kepedulian dan Tanggung Jawab Publik Berjalan Bersamaan

BANDA ACEH | Aktivitas sosial dan kemanusiaan yang dilakukan Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman alias Haji Uma, selama ini kerap menjadi sorotan publik dan media. Berbagai aksi pendampingan masyarakat, bantuan bagi warga yang mengalami persoalan kesehatan, hingga fasilitasi pemulangan jenazah warga Aceh dari luar negeri menjadi bagian dari aktivitas yang melekat dengan sosok Haji Uma.

Sebuah kajian akademik berjudul “Haji Uma dalam Paradigma Dekonstruksi Pemberitaan Media” yang diterbitkan dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM), Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025, mencoba melihat secara kritis bagaimana media membentuk citra politik Haji Uma melalui pemberitaan aktivitas sosialnya.

Penelitian tersebut menggunakan pendekatan dekonstruksi Jacques Derrida untuk melihat hubungan antara aktivitas sosial, konstruksi media, persepsi publik, dan komunikasi politik Haji Uma.

Aksi Kemanusiaan Menjadi Bagian Penting dari Relasi dengan Masyarakat

Salah satu contoh yang dianalisis adalah keterlibatan Haji Uma dalam membantu seorang pasien kanker asal Aceh yang menjalani perawatan di Jakarta. Dalam pemberitaan tersebut, Haji Uma disebut membantu pengurusan administrasi, perawatan, rumah singgah, hingga kebutuhan keluarga pasien selama menjalani pengobatan.

Kajian tersebut juga menganalisis keterlibatan Haji Uma dalam proses pemulangan jenazah warga Aceh yang meninggal dunia di Malaysia. Proses tersebut melibatkan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Persatuan Perantau Aceh Malaysia (PPAM) dan BP3MI.

Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas sosial Haji Uma tidak hanya berlangsung dalam bentuk pemberian bantuan secara langsung, tetapi juga melibatkan koordinasi, jaringan relawan, dan kerja tim di lapangan.

Publikasi Media Tidak Otomatis Berarti Pencitraan

Kajian tersebut memang memberikan catatan kritis bahwa pemberitaan media lebih banyak menonjolkan sisi kemanusiaan Haji Uma dibandingkan aspek politik dan kelembagaan. Namun, penelitian juga menghadirkan perspektif Haji Uma mengenai alasan di balik publikasi aktivitasnya.

Haji Uma menjelaskan bahwa publikasi tersebut merupakan bagian dari keterbukaan dan pertanggungjawaban kepada masyarakat. Ia menegaskan bahwa apa yang dipublikasikan merupakan aktivitas yang benar-benar dilakukan di lapangan, bukan semata-mata untuk mencari popularitas.

Prinsip tersebut dirangkum melalui ungkapan Aceh:

"Meuyoe kheun ureung Aceh; peugah lagee but, pubuet lagee na.” 

Maknanya, apa yang dikerjakan itulah yang disampaikan secara terbuka kepada masyarakat.

Penelitian: Batas antara Kepedulian dan Pencitraan Memang Tipis.

Menariknya, penelitian tersebut tidak berhenti pada kritik terhadap konstruksi media. Pada bagian analisis, penulis mengakui bahwa batas antara ketulusan dan pencitraan dalam politik memang sangat tipis.

Bahkan, pada bagian kesimpulan, penelitian menyebut bahwa aksi sosial Haji Uma patut mendapat apresiasi, karena semakin sedikit politisi yang secara langsung hadir menyentuh persoalan masyarakat. Penelitian juga menyatakan bahwa kepedulian murni dan pencitraan dapat saling beririsan dalam komunikasi politik.

Yang lebih penting, kesimpulan penelitian menegaskan bahwa meskipun pemberitaan media mengenai aksi sosial Haji Uma dapat terlihat bersifat selebratif, tidak cukup beralasan untuk menganggap seluruh aksi sosial tersebut sebagai tindakan manipulatif.

Kepedulian Sosial dan Politik Substantif Tidak Harus Dipertentangkan

Kajian ini sekaligus membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai bagaimana masyarakat menilai seorang wakil rakyat.

Seorang anggota DPD RI tidak hanya bekerja melalui ruang legislasi dan kebijakan, tetapi juga berinteraksi langsung dengan konstituen. Dalam konteks Haji Uma, kedekatan emosional dengan masyarakat telah terbentuk bahkan sebelum dirinya terjun ke dunia politik melalui kiprahnya di film Eumpang Breuh.

Kedekatan tersebut kemudian menjadi modal sosial yang memungkinkan masyarakat lebih mudah menyampaikan persoalan kepada dirinya. Penelitian tersebut mencatat bahwa relasi emosional tersebut dapat menjadi jembatan antara masyarakat dengan wakilnya.

Karena itu, aksi kemanusiaan dan perjuangan politik tidak semestinya selalu ditempatkan sebagai dua hal yang bertentangan. Keduanya dapat berjalan bersamaan sebagai bagian dari tanggung jawab seorang wakil rakyat.

Masyarakat Tetap Perlu Kritis, tetapi Tidak Mengabaikan Fakta

Penelitian tersebut pada akhirnya mendorong masyarakat untuk tetap kritis dalam membaca pemberitaan media, sekaligus mengingatkan media agar menjaga objektivitas dan memberikan informasi yang berimbang.

Dengan demikian, kajian akademik ini justru memberikan gambaran yang lebih kompleks: Haji Uma memang dibangun sebagai figur yang dekat, empatik dan responsif melalui pemberitaan media, tetapi aktivitas sosial tersebut juga merupakan tindakan nyata yang dilakukan di lapangan.

Perdebatan mengenai apakah sebuah aksi sosial memiliki dimensi komunikasi politik merupakan bagian yang wajar dalam demokrasi. Namun, memberikan label bahwa aksi kemanusiaan semata-mata merupakan pencitraan harus dilakukan secara hati-hati dan berdasarkan bukti yang memadai.

Pada akhirnya, masyarakatlah yang memiliki hak untuk menilai rekam jejak seorang wakil rakyat—baik dari kedekatannya dengan masyarakat, kerja-kerja kemanusiaannya, maupun kontribusinya dalam memperjuangkan kepentingan daerah.[]

© Copyright 2022 - Asumsi Publik - Informasi Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini