Breaking News

Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani Dampingi Kapolri ke Pidie, Tegaskan Perang Narkoba Harus Tuntas hingga ke Akar

PIDIE | Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si., menegaskan bahwa pemberantasan narkotika harus dilakukan secara menyeluruh hingga ke akar jaringan.

Penegasan itu disampaikan menyusul pengungkapan lokasi yang diduga menjadi laboratorium produksi sabu di Kabupaten Pidie, Aceh, yang menjadi perhatian serius aparat penegak hukum dan masyarakat.

Dedy Tabrani mendampingi Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, S.I.K., M.Si., meninjau lokasi yang diduga menjadi tempat produksi narkotika di kawasan Gampong Beureueh Ulee Tutue, Kabupaten Pidie, pada Jumat, 23 Oktober 2026. Kehadiran Kapolri secara langsung dinilai menjadi momentum penting dalam memperkuat komitmen pemberantasan narkoba serta menunjukkan keseriusan aparat dalam menangani dugaan kejahatan narkotika berskala besar.

Dalam keterangannya di lokasi, Dedy menekankan bahwa penindakan tidak boleh berhenti pada pelaku yang ditemukan di lapangan. Aparat perlu menelusuri seluruh mata rantai kejahatan, mulai dari sumber bahan baku, proses produksi, pihak yang diduga menjadi pemodal, hingga jaringan distribusi. “Pemberantasan narkoba harus sampai ke akar-akarnya. Semua sisi harus ditutup. Jangan biarkan mereka memiliki tempat di Indonesia, khususnya Aceh,” tegas Dedy.

Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam pengungkapan tersebut, aparat menemukan sekitar 1,1 ton sabu yang berkaitan dengan aktivitas produksi narkotika. Besarnya jumlah barang bukti itu menjadi perhatian karena berpotensi menimbulkan dampak luas apabila masuk ke jaringan peredaran gelap.

Meski demikian, rincian mengenai jenis barang bukti, status seluruh narkotika yang ditemukan, serta hasil pemeriksaan lanjutan tetap perlu merujuk pada keterangan resmi penyidik.

Dalam perkembangan perkara yang disampaikan, sebanyak 11 orang disebut telah teridentifikasi sebagai pihak yang diduga terlibat, termasuk dua warga negara asing. Dedy menekankan pentingnya sinergi antara BNN, Polri, dan instansi terkait untuk mengungkap peran masing-masing pihak serta menelusuri kemungkinan keterlibatan jaringan lintas negara. Seluruh proses penanganan perkara harus dilakukan berdasarkan bukti yang sah dan sesuai ketentuan hukum.

Dedy juga menyampaikan bahwa generasi muda merupakan aset bangsa yang harus dilindungi dari ancaman narkotika. Menurutnya, pengungkapan kasus di Pidie harus menjadi momentum untuk memperkuat pencegahan, edukasi, pengawasan, dan partisipasi masyarakat.

Ia berharap keluarga, sekolah, tokoh masyarakat, serta seluruh unsur pemerintah ikut mengambil peran dalam membangun lingkungan yang sehat dan melindungi anak-anak muda Aceh dari bahaya penyalahgunaan narkoba.

Ia turut mengapresiasi kehadiran Kapolri yang turun langsung ke Aceh untuk melihat penanganan kasus tersebut. Dedy menilai momentum itu memperkuat semangat kerja bersama antara BNN dan Polri dalam memutus jaringan narkotika.

Ia menegaskan, BNNP Aceh berkomitmen terus bersinergi dengan kepolisian dan seluruh pemangku kepentingan agar pemberantasan narkoba tidak berhenti pada satu pengungkapan kasus, melainkan berlanjut hingga jaringan yang terlibat terungkap dan masyarakat Aceh semakin terlindungi.[]

© Copyright 2022 - Asumsi Publik - Informasi Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini