Breaking News

Tetes Air Mata di Balik Desil 8: Saat Dekapan Ir.H.Mukhlis Bupati Bireuen Menembus Sekat Birokrasi


Muhammad Fahreza di jemput oleh ambulan takabeya

BIREUEN | Di sebuah sudut sunyi Dusun Tgk. di Kareung, Gampong Cot Keutapang, langkah kaki Fitriani (37) terasa begitu berat. Bukan hanya karena luka fisik akibat kecelakaan tunggal yang menimpanya, melainkan karena beban batin yang jauh lebih menyesakkan: kenyataan bahwa kemiskinannya tak diakui oleh angka.

​Fitriani dan putranya yang masih balita, Muhammad Fahreza (2), terjerat dalam ironi administrasi. Meski hidup dalam keterbatasan, mereka terdata dalam Desil 8—sebuah kategori yang membuat mereka kehilangan hak jaminan kesehatan gratis (JKA). Bagi keluarga ini, rumah sakit bukan lagi tempat mencari kesembuhan, melainkan pintu gerbang menuju hutang yang tak mampu mereka bayar.

Trauma dan Harapan yang Hampir Padam

​Rasa sakit di tubuh Fahreza kecil mungkin tak sebanding dengan rasa sungkan yang menggelayuti hati ibunya. Fitriani mengaku sempat enggan menginjakkan kaki kembali ke rumah sakit. Kenangan pahit saat harus pulang karena keterbatasan biaya meninggalkan luka yang dalam.

​Namun, secercah cahaya muncul melalui tangan dingin Surniati, seorang Bidan Desa dari Cot Tarom Tunong. Dengan kesabaran dan empati, Surniati meyakinkan Fitriani bahwa mereka tidak sendirian.

Intervensi Nurani dari Meja Pimpinan

​Kabar tentang balita malang yang tak mampu berobat ini akhirnya mengetuk pintu hati Bupati Bireuen, Ir. H. Mukhlis. Tak butuh waktu lama bagi sang pemimpin untuk bertindak. Baginya, keselamatan nyawa warganya tidak boleh terhenti di atas tumpukan berkas desil.

​Pada Rabu (13/05/2026), sebuah ambulans "Mukhlis Takabeya" membelah jalanan gampong, menjemput asa yang sempat layu. Bupati Mukhlis secara langsung memfasilitasi pengobatan ibu dan anak tersebut ke RSUD dr. Fauziah Bireuen.

"Atas bantuan Bupati saya mengucapkan terima kasih, begitu juga ibu bidan Surniati yang sigap membantu kami, baik pada hari kejadian hingga hari ini," ucap Fitriani dengan suara bergetar, menahan haru saat bantuan yang tak disangka-sangka itu tiba di depan pintu rumahnya.

Jeritan Hati: Jangan Ada Lagi Fahreza Lainnya

​Di balik rasa syukur itu, Fitriani menitipkan sebuah harapan besar. Ia memohon agar pendataan desil benar-benar mencerminkan wajah asli kemiskinan di lapangan. Ia tak ingin ada warga miskin lain yang harus "terdepak" dari sistem kesehatan hanya karena kesalahan data.

​Kisah Fahreza dan Fitriani adalah pengingat bagi kita semua, bahwa di balik deretan angka statistik, ada nyawa manusia yang butuh pertolongan. Aksi sigap Bupati Bireuen hari ini bukan sekadar bantuan medis, melainkan pesan kuat bahwa kemanusiaan harus selalu berdiri di atas birokrasi. [Rel]

Pewarta: AT
Editor    : Redaksi/safrina
© Copyright 2022 - Asumsi Publik - Informasi Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini