Breaking News

Gerak Cepat Cut Apa, Minta Pemko Banda Aceh Siapkan Relokasi Humanis bagi Pedagang Kuliner


BANDA ACEH – Anggota Komisi III DPRA, Hasballah, S.Ag atau yang akrab disapa Cut Apa, bergerak cepat merespons aspirasi para pedagang kuliner di kawasan sekitar Universitas Syiah Kuala (USK) dan UIN Ar-Raniry. Ia meminta Pemerintah Kota Banda Aceh di bawah kepemimpinan Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal mengedepankan pendekatan yang humanis dalam setiap kebijakan penataan kawasan.


Menurut Cut Apa, penataan kota tetap penting dilakukan, namun harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap mata pencaharian masyarakat kecil. Karena itu, ia mendorong Pemko Banda Aceh menyiapkan pembinaan terpadu sekaligus lokasi relokasi yang layak dan representatif agar para pedagang tetap dapat menjalankan usaha tanpa kehilangan sumber penghidupan.


“Para pedagang ini sudah bertahun-tahun mencari nafkah secara mandiri. Jangan sampai penataan justru memutus mata pencaharian mereka. Pemerintah perlu hadir dengan solusi yang baik, menyediakan tempat yang layak, tertata, dan tetap memiliki nilai ekonomi bagi para pedagang,” ujar Hasballah di Banda Aceh, Jumat (24/7/2026).


Cut Apa menilai keberadaan pedagang kuliner di kawasan kampus selama ini turut menopang roda perekonomian masyarakat sekaligus memenuhi kebutuhan mahasiswa akan makanan dan minuman dengan harga terjangkau. Sebagian pedagang, kata dia, bahkan telah berusaha di kawasan tersebut selama lebih dari 15 tahun sehingga aspek kemanusiaan harus mendapat perhatian utama dalam proses penataan.


Ia juga mendorong Pemko Banda Aceh melibatkan USK, UIN Ar-Raniry, ulama, akademisi, ahli fikih muamalah, serta tokoh masyarakat untuk mencari solusi bersama. Kolaborasi dinilai penting agar kawasan di sekitar Jalan Tgk. Chik Pante Kulu dan Rukoh dapat ditata menjadi sentra kuliner yang lebih rapi, nyaman, higienis, dan tetap memberikan ruang usaha bagi pelaku UMKM.


“Karpet merah jangan hanya diberikan kepada investor besar. Pedagang lokal dan UMKM juga harus mendapat perhatian karena mereka merupakan bagian penting dari ekonomi daerah. Kita ingin penataan Banda Aceh berjalan baik, tetapi masyarakat kecil juga tetap bisa mencari nafkah dengan tenang dan bermartabat,” tegas Cut Apa.

© Copyright 2022 - Asumsi Publik - Informasi Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini