Breaking News

Indonesia Gagal Merdeka: Krisis Mentalitas dan Hilangnya Kemandirian Bangsa

Narasi “Indonesia gagal merdeka” mungkin terasa keras jika dilihat dari luar. Namun, ketika dilihat dari dalam, ia mencerminkan kegelisahan yang nyata.

Asumsipublik.id | Kemerdekaan sering kali dibayangkan sebagai kondisi di mana sebuah bangsa berdiri tegak di atas kakinya sendiri mandiri, percaya diri, dan mampu menentukan arah tanpa bergantung pada pihak lain. Namun dalam realitas Indonesia hari ini, ada satu persoalan yang jarang dibahas secara jujur: krisis mentalitas.

Narasi “Indonesia gagal merdeka” tidak hanya soal ekonomi atau ketimpangan sosial, tetapi juga menyentuh wilayah yang lebih dalam cara berpikir. Sebab, sejauh apa pun sebuah bangsa merdeka secara politik, tanpa kemandirian mental, kemerdekaan itu akan selalu terasa setengah.

Krisis mentalitas ini terlihat dalam berbagai bentuk. Salah satunya adalah kecenderungan untuk selalu bergantung. Dalam banyak situasi, masyarakat lebih menunggu bantuan daripada membangun solusi. Bantuan pemerintah, subsidi, hingga intervensi dari luar sering kali dianggap sebagai jalan utama, bukan opsi terakhir.

Padahal, ketergantungan yang terus-menerus justru melemahkan daya juang. Ia menciptakan pola pikir bahwa kemajuan adalah sesuatu yang diberikan, bukan diperjuangkan. Dalam jangka panjang, mentalitas ini berbahaya, karena membuat masyarakat kehilangan inisiatif dan keberanian untuk mandiri.

Mantan Alumni Pascasarjana Magister Hukum UNIS Tangerang Jakarta, asal Aceh, Irfadi,, S.Pd.I., MH., NL.P,. CPM., CCLA, menyebut fenomena ini sebagai “kemerdekaan yang rapuh secara mental”. Menurutnya, penjajahan fisik mungkin sudah berakhir, tetapi penjajahan dalam cara berpikir masih bertahan dalam bentuk yang lebih halus.

“Kita sering merasa sudah merdeka karena tidak lagi dijajah secara fisik. Tapi secara mental, banyak dari kita masih belum benar-benar bebas. Kita masih takut gagal, takut berbeda, dan terlalu bergantung pada sistem,” ujar irfadi.

Pernyataan ini mengarah pada persoalan yang lebih luas: hilangnya rasa percaya diri sebagai bangsa. Dalam banyak aspek, standar luar sering kali dianggap lebih baik tanpa melalui proses kritis. Produk asing dipuja, budaya luar ditiru, dan pencapaian bangsa sendiri justru diragukan.

Fenomena ini bukan sekadar soal selera, tetapi menunjukkan adanya inferioritas yang tersisa. Setelah lama berada di bawah kekuasaan asing, tidak semua masyarakat berhasil sepenuhnya melepaskan bayang-bayang tersebut. Akibatnya, kemerdekaan tidak diiringi dengan kebanggaan dan keyakinan diri yang kuat.

Di sisi lain, krisis mentalitas juga terlihat dari lemahnya tanggung jawab kolektif. Banyak persoalan sosial yang sebenarnya bisa diselesaikan bersama, tetapi justru dibiarkan dengan harapan “ada yang mengurus”. Sikap ini menciptakan jarak antara masyarakat dan peran aktif dalam pembangunan.

Padahal, kemerdekaan sejati menuntut partisipasi. Ia tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah atau segelintir elite. Tanpa keterlibatan masyarakat, kemerdekaan akan selalu menjadi konsep yang jauh dari realitas.

Prayogi menegaskan bahwa kemandirian bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal keberanian untuk berpikir dan bertindak. Sebuah bangsa yang merdeka harus mampu mengambil keputusan sendiri, bahkan dalam kondisi yang sulit.

“Kemandirian itu dimulai dari cara berpikir. Kalau kita masih selalu merasa butuh diselamatkan, maka kita tidak akan pernah benar-benar berdiri di atas kaki sendiri,” tegasnya.

Lebih jauh lagi, krisis mentalitas ini berdampak pada kemampuan bangsa untuk berkembang. Inovasi menjadi terbatas, karena keberanian untuk mencoba hal baru sering kali terhambat oleh rasa takut. Kritik menjadi lemah, karena banyak orang memilih diam daripada berisiko.

Dalam kondisi seperti ini, kemerdekaan kehilangan salah satu esensinya yang paling penting: kebebasan untuk berkembang. Sebab, tanpa keberanian dan kepercayaan diri, kebebasan tidak akan pernah benar-benar dimanfaatkan.

Narasi “Indonesia gagal merdeka” mungkin terasa keras jika dilihat dari luar. Namun, ketika dilihat dari dalam, ia mencerminkan kegelisahan yang nyata. Bahwa perjuangan kemerdekaan belum selesai, karena masih ada aspek yang belum disentuh secara serius: mentalitas bangsa.

Mungkin, kita sudah bebas dari penjajahan fisik. Tetapi selama cara berpikir kita masih dibatasi oleh rasa takut, ketergantungan, dan kurangnya kepercayaan diri, maka kemerdekaan itu belum sepenuhnya utuh.

Dan mungkin, langkah pertama untuk benar-benar merdeka bukan dimulai dari perubahan sistem, tetapi dari perubahan cara kita melihat diri sendiri sebagai bangsa yang mampu, bukan sekadar bangsa yang pernah merdeka.[*]

© Copyright 2022 - Asumsi Publik - Informasi Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini